Jumat, 29 Juni 2012

Pendidikan Islam Pluralis Multikultural


A.      Pendahuluan
Beda pendapat merupakan ketentuan alam (order of nature) atau dalam bahasa al-Qur’an, “sunatullah”. Perbedaan pandangan, keyakinan, dan agama, merupakan fenomena alamiah. Barang siapa mengingkari adanya perbedaan berarti mengingkari sunatullah, ketentuan-ketentuan yang telah Allah tetapkan. Perbedaan yang ada, di satu sisi akan menjadi suatu hal yang menguntungkan bagi manusia. Dengan adanya perbedaan seseorang dapat merasakan berfariasinya hidup ini. Kekurangan yang dimiliki seseorang ada pada kelebihan yang dimiliki orang lain demikian pula sebaliknya. Tanpa adanya perbedaan tidak akan mungkin ada kemajuan. Namun di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan tersebut kadang meruncing sampai ke titik perseteruan. Untuk mempertahankan posisi masing-masing, tidak jarang agama atau interpretasi teks-teks keagamaan dijadikan sarana legitimasi. Agama sebagai pedoman keselamatan hidup dipahami secara sempit sehingga tidak heran ada asumsi tentang bolehnya berbuat kekerasan dan permusuhan dengan umat dari agama lain karena itu merupakan perbuatan suci. Di sinilah paling tidak akan tampak betapa perluanya mengetahui perbedaan sekaligus persamaan yang ada pada agama lain untuk kemudian menjadikannya sebagai pengetahuan yang sangat berguna.
B.       Pembahasan
a.      Hakikat Pendidikan
Apabila kita berbicara hakikat pendidikan, sudah barang tentu kita tidak dapat terlepas dari pembicaraan tentang pendidikan secara umum. Hal ini disebabkan karena ada keterkaitan antara pengertian pendidikan Islam dengan pengertian pendidikan secara umum. Dalam memberikan definisi pendidikan para ahli berbeda pendapat sesuai kerangka berfikir masaing-masing, diantaranya adalah Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pmpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohanisi terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.2
Sedangkan Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditunjukan untuk keselamatan   dan kebahagiaan manusia. Menurutnya pendidikan berarti usaha berkebudayaan, berasas peradaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.3
Dari dua definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan merupakan suatu aktivitas yang dilakukan dengan sengaja, seksama, terencana, dan bertujuan yang dilaksanakan oleh orang dewasa dalam arti memiliki bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan (profesional)  menyampaikan kepada anak didik secara bertahap, begitu juga apa yang diberikan kepada anak didik itu sedapat mungkin menolong tugas dan perannya dimasyarakat, dimana kelak ia hidup (termasuk untuk mempertinggi derajat kemanusiaan).
Adapun yang dimaksud pendidikan Islam sebagaimana yang dikatakan Sayid Sabiq adalah suatu aktivitas yang mempunyai tujuan mempersiapkan anak didik dari segi jasmani, akal dan ruhaninya sehingga nanti mereka menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun umatnya (masyarakat).4
Beberapa uraian tentang pengertian pendidikan dan pendidikan islam tersebut dapat memberikan suatu gambaran bahwa keduanya merupakan satu proses  penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien.
Pada umumnya, Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia tersebut, juga harus dilakukan secara langsung dan bertahap, karena kematangan dan optimalnya perkembangan dan pertumbuhan peserta didik berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan secara bertahap dan terus menerus (kontiunitas). Suatu proses yang diinginkan dalam usaha kependidikan sebagaimana dimaksud adalah proses yang terarah dan bertujuan, yakni usaha untuk mengarahkan peserta didik kepada arah yang optimal sesuai dengan kemampuannya, dengan tujuan yang hendak dicapai yaitu terbentuknya kepribadian peserta didik yang utuh dan mantap  sebagai manusia yang taat. Dengan demikian pendidikan Islam akan mampu memproduk manusia yang bersedia untuk hidup dalam masyarakat yang majemuk/ plural dan multikultural.
Pendidikan dalam Islam tidak sesempit yang dipahami oleh seglintir orang, yakni diantara mereka memahami pendidikan Islam hanya berkisar pada pendidikan rohani semata,tanpa menyentuh pendidikan yang sifatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.  Demikianlah pula bahwa sangatlah tidak tepat anggapan yang mengatakan Islam itu sangat eksklusif dan tertutup, tidak siap menerima perbedaan dan keragaman. Oleh karena itu untuk menilai Islam, seseorang harus memahami Islam secara sempurna atau secara kaffah. Dari segi sejarah Islam telah mempraktekan hidup rukun dalam keragaman. Nabi membangun Yastrib yang terdidri atas keragaman etnis dan latar belakang agama dan kepercayaan, nabi menerapkan konsep Al-Qur’an tidak memaksakan umat non Islam untuk terjadinya konversi ke Islam. [1] Dengan ikhlas umat Islam membangun kebersamaan yang plural di Madinah.

b.      Pengertian Pluralis
Pluralisme secara harafiah dari bahasa Latin: plus, pluris yang berarti "lebih". Secara filosofis, pluralisme adalah wejangan yang menekankan bahwa kenyataan terdiri atas kejamakan dan/atau kemajemukan individu-individu yang berdiri sendiri-sendiri, dan sebagai demikian, tidak boleh dimuarakan pada bentuk-bentuk penampakan dari satu kenyataan mutlak.  Romo Franz Magnis Suseno, dalam Dialog dan Diskusi Pluralism and Humanism in Religious Society, yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, di Jakarta,  memberikan pendapatnya: pluralisme diartikan sebagai kemampuan untuk hidup damai bersama satu pemeluk agama dengan pemeluk agama lain, dengan dasar nilai-nilai amat diperlukan untuk menghadang timbulnya kebencian yang sepertinya banyak terjadi belakangan ini. Ia menambahkan pluralisme bukanlah relativisme, atau memandang semua agama sama saja. Pluralisme adalah sikap tenang dan tidak terganggu dengan iman dan keberagamaan orang lain. Pluralisme itu bukan berarti memandang semua agama sama. Akan tetapi sebagai sebuah sikap yang terbuka terhadap kemajemukan. Paham pluralisme juga tidak mengenal sikap memaksakan ajaran agama yang satu ke pemeluk agama yang lain.

c.       Pengertian Multikultural
Istilah multikulturalisme diambil dari kata “multicultural” menjadi “multiculturalisme”, sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat Kanada pada sektar tahun 1950-an. Kata “multicultural” juga menurut Kymlicka yang dikutip Fahri Hamzah (2011 : 117), seringkali digunakan dalam arti yang lebih luas. Namun istilah tersebut tetap menekankan pada konsep tentang sejumlah kelompok sosial nonetnis, yang karena berbagai alasan, dikucilkan atau dikesampingkan dalam aliran utama masyarakat. Kymlicka menekankan pengucilan dan pengesampingan itu sebagai fenomena yang tampak dalam masyarakat modern, dimana multikulturlisme yang direpresentasikan dengan adanya kelompok budaya minoritas yang menuntut pengakuan atas identitas mereka serta diterima perbedaan budaya mereka, hadir sebagai tantangan bagi masyarakat modern.
Multikultural merupakan sifat yang menunjukan adanya keragaman budaya dalam satu masyarakat. Untuk mewujudakan nilai-nilai budaya yang multicultural, yang mempunyai keragaman budaya, menurut Parsudi Suparlan acuan utamanya yaitu sebuah idiologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individu maupun secara kebudayaan.5 Konsep yang relevan dengan multikulturalisme antaralain demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dan perbedaan yang sederajat, suku bangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan public, HAM dan dan konsep-konsep lainnya yang relevan.6

d.      Tujuan, Prinsip Pengembangan dan Rancangan Pendekatan Pendidikan Islam Berwawasan Pluralis-Multikultural
1.Tujuan Pendidikan Pluralis-Multikultural
Akhir-akhir ini, sering terjadi kritik terhadap pendidikan agama di antaranya bahwa pendidikan agama tidak berdampak pada perubahan prilaku peserta didik setelah mereka mengalami proses pendidikan agama tersebut. Meskipun di beberapa unit pendidikan materi agama diberikan dengan porsi yang cukup besar, namun tetap tidak mampu mencegah peserta didik berprilaku buruk seperti pergaulan bebas, tawuran, berpikiran sempit (dogmatis), kurangnya toleransi dan penghargaan terhadap orang lain. Maka tidak heran jika pada akhirnya banyak orang menjadi apatis dengan pendidikan agama, dan mempertanyakan sejauh mana efektifitas mata pelajaran tersebut bagi peningkatan kesadaran peserta didik baik secara kultural maupun agama.
Pembelajaran dalam koridor pendidikan agama saat ini masih cenderung dogmatis serta kurang mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif sehingga melahirkan pemahaman agama yang cenderung tekstual dan eksklusif. Di era multikulturalisme ini, pendidikan agama merupakan pilar penyangga bagi kerukunan umat beragama, sehingga diharapkan ia tidak saja menjadi fondasi integritas nasional yang kokoh tetapi juga menjadi fondasi pengayom keberagaman yang sejati.
Oleh karenanya, dengan memanfaatkan keragaman agama-agama yang ada serta melalui bentuk pembelajaran agama yang dialogis, pendidikan agama berwawasan pluralis-multikultural diharapkan memiliki karakteristik khas yang meliputi: penanaman kesadaran akan pentingnya hidup bersama dalam keragaman dan perbedaan agama yang ada. Penanaman semangat relasi antar manusia dengan spirit kesetaraan dan kesederajatan, saling percaya, saling memahami, menghargai perbedaan dan keunikan agama-agama. Menerima perbedaan-perbedaan dengan pikiran terbuka demi mengatasi konflik untuk terciptanya perdamaian dan kedamaian.
Berangkat dari pandangan di atas, maka pendidikan pluralis-multikultural setidaknya memiliki 2 tujuan besar, yakni tujuan awal dan tujuan akhir, yaitu:
Tujuan awal pendidikan pluralis-multikultural adalah membangun wacana pendidikan multikultural dan penanaman nilai-nilai pluralisme, humanisme dan demokrasi terhadap para pelaku pendidikan.
Sedangkan tujuan akhir dari pendidikan multikultural adalah agar peserta didik mampu memahami dan menguasai setiap materi pembelajaran serta memiliki karakter yang kuat untuk selalu bersikap demokratis. Multikulturalisme mengandung pengertian kemajemukan budaya, sementara Pluralisme lebih kepada kemajemukan agama. Dalam konteks ini, istilah Pendidikan Islam Pluralis-Multikultural berarti sikap menerima kemajemukan ekspresi budaya manusia dalam memahami pesan utama agama, terlepas dari rincian anutannya.

2.    Prinsip Pengembangan Pendidikan Pluralis-Multikultural
Pendidikan pluralis multikultural dapat dimulai dari aspek yang paling kecil, yaitu diri sendiri. Prinsip ini menekankan pendidikan dimulai dari pengenalan terhadap jati diri sendiri, bukan jati diri yang lain. Keterlibatan seseorang dalam pendidikan multikultural akan terjadi apabila ia melihat ada relevansinya dengan kehidupannya sendiri. Relevansi masalah orang lain terhadap kehidupannya sendiri akan membuat seseorang berminat untuk terlibat dalam pendidikan multikultural.
Pendidikan pluralis multikultural hendaknya dikembangkan agar pembelajaran tidak mengembangkan sikap etnosentris. Dengan mengembangkan sikap yang non-etnosentris, kebencian dan konflik akan dapat dihindarkan secara maksimal. Itu berarti bahwa pendidikan ini bertujuan untuk membangun kesadaran yang tidak bersifat mengunggulkan diri dan kelompoknya sebagai yang paling unggul dengan mengalahkan yang lain.
Pendidikan pluralis-multikultural seharusnya dikembangkan secara integratif, komprehensif dan konseptual. Pendekatan semacam ini mengisyaratkan bahwa agar kurikulum pendidikan pluralis-multikultural memasukkan sebuah kurikulum yang bersifat total, terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran seperti bahasa, ilmu pengetahuan sosial, sains dan teknologi, pendidikan jasmani, kesenian atau pendidikan moral.
Pendidikan pluralis-multikultural harus menghasilkan sebuah perubahan, Bukan saja pada materi kurikulum, tetapi pada praktek pembelajaran dan struktur sosial dari sebuah kelas. Untuk mencapai suasana pembelajaran demikian, maka pembelajaran harus berorientasi pada proses, misalnya bermain peran, simulasi, diskusi, pembelajaran kooperatif, pembelajaran partisipatoris, dan sebagainya.
Pendidikan pluralis-multikultural harus mencakup realitas sosial dan kesejarahan dari agama dan etnis yang ada. Kontekstualisasi semacam ini memiliki makna penting untuk menumbuhkan rasa hormat, toleran dan menghargai keragaman yang ada. Dalam konteks pendidikan agama berwawasan pluraslis multikultural, seorang pendidik (guru) diharapkan bersikap demokratis. Artinya, segala prilakunya tidak diskriminatif terhadap peserta didik yang berbeda agama. Selain itu, ia juga diharapkan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu-isu atau kejadian-kejadian yang terkait dengan masalah agama. Oleh karenanya, seorang pendidik sudah seharusnya menjelaskan bahwa inti dari ajaran agama adalah menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, dan segala bentuk kekerasan sangat dilarang oleh agama. Dalam hal ini, setiap unit pendidikan (sekolah) juga diharapkan dapat menerapkan peraturan lembaga yang di dalamnya mencakup poin tentang larangan segala bentuk diskriminasi sehingga semua anggota di unit pendidikan (sekolah) itu dapat selalu belajar untuk saling menghargai orang lain yang berbeda.
3.    Rancangan Pendekatan (Metodologi) Pendidikan Agama Berwawasan Pluralis-Multikultural.
     Pengembangan pendidikan agama berwawasan pluralis multikultural dapat diterapkan pada beberapa aspek, yakni: orientasi muatan (kurikulum), orientasi siswa, dan orientasi reformasi unit pendidikan (persekolahan).
Pada pendidikan yang berorientasi pada muatan, J.A. Banks (2009) menawarkan kerangka kurikulum dengan beberapa pendekatan, yaitu:
a.    Pendekatan kontributif, bertujuan untuk memasukkan materi-materi tentang keragaman kelompok keagamaan (termasuk kelompok etnik dan kultur masyarakat).
b.    Pendekatan aditif, yaitu melakukan penambahan muatan-muatan, konsep-konsep baru ke dalam kurikulum tanpa mengubah struktur dasarnya. Pendidikan agama memanfaatkan muatan-muatan khas multikultural sebagai pemerkaya bahan ajar, konsep-konsep tentang harmoni kehidupan bersama antar umat beragama, saling toleransi, ko-eksistensi, pro-eksistensi, kerjasama, saling menghargai dan memahami.
Untuk merancang strategi hubungan multikultural dalam pendidikan (termasuk pendidikan agama) setidaknya dapat digolongkan kepada 2 (dua) pengalaman, yakni: pengalaman pribadi dan pengalaman pengajaran yang dilakukan oleh guru (pendidik).
Pengalaman pribadi dapat dikondisikan dengan menciptakan suasana seperti: Seluruh peserta didik baik yang minoritas maupun mayoritas memiliki status dan tugas yang sama. Seluruh peserta didik bergaul, berhubungan, berkembang dan berkelanjutan bersama. Seluruh peserta didik berhubungan dengan fasilitas, gaya belajar guru dan norma kelas yang sama.
Adapun dalam bentuk pengalaman pengajaran adalah sebagai berikut:
1.      Guru harus sadar akan keragaman siswa.
2.      Bahan kurikulum dan pengajaran seharusnya merefleksikan keragaman.
3.      Bahan kurikulum dituliskan dalam bahasa-bahasa daerah/etnik yang berbeda.        
Selain itu, di dalam pendidikan agama berwawasan pluralis-multikultural perlu juga upaya pendekatan lain seperti: pendekatan estetik dan pendekatan berperspektif gender.
Pendekatan estetik di dalam pendidikan agama akan menjadikan peserta didik memiliki sifat-sifat yang santun, damai, ramah, dan mencintai keindahan. Dalam pendekatan ini, pendidikan agama tidak didekati secara doktrinal yang cenderung menekankan adanya “otoritas-otoritas” kebenaran agama, tetapi lebih apresiatif terhadap gejala-gejala yang terjadi di masyarakat serta dilihat sebagai bagian dari dinamika hidup yang bernilai estetis. Sedangkan pendekatan berperspektif gender adalah pendekatan yang tidak membedakan peserta didik dari aspek jenis kelamin. Dengan demikian pendekatan ini sangat manusiawi.
Adapun metode yang dapat diterapkan dalam pendidikan agama berwawasan pluralis-multikultural cukup beragam. Metode yang paling baik dalam sebuah pembelajaran idealnya bervariatif, baik antara teknik yang berpusat pada guru maupun teknik pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah dengan menggunakan “model komunikatif” dengan menjadikan perbedaan sebagai titik tekan. Metode ini sangat efektif apalagi dalam proses belajar mengajar yang sifatnya kajian perbandingan agama dan budaya. Sebab, dengan komunikasi ini memungkinkan setiap komunitas yang memiliki latar belakang berbeda dapat mengemukakan pendapatnya secara argumentatif.
Selain metode itu, perlu juga diterapkan metode pendukung seperti: metode belajar aktif (collaborative learning), metode belajar melalui penemuan dan pengalaman sendiri (self discovery learning), ceramah (socratic teaching) yakni ceramah atau ekspose yang diawali dengan pertanyaan lalu diberikan jawaban yang terus mengalir sehingga terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik.

C.      Kesimpulan dan Penutup
Islam adalah agama terbuka, tidak menutup diri, dan memberikan kebebasan berfikir, bagi penganutnya dan ajarannya mengajak penganutnya untuk senantiasa berinteraksi antar sesama manusia tanpa membeda-bedakan antar satu dengan yang lain serta menghimbau untuk senantiasa berdialog mencari kebenaran yang hakiki dengan pihak lain (non Islam) dan dilakukan dengan cara yang baik.
Pendidikan Islam yang plural adalah pendidikan yang mengarahkan peserta didik untuk mampu menjalin kerjasama dengan pihak lain tanpa membedakan latar belakang etnis, warna kulit, agama dan kepercayaan.


1 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam,Bandung:Remaja Rosda karya,1994,hal.14-15
2 Ki Hajar Dewantara,Bagian Pertama Pendidikan, Yogyakarta:Majeis Luhur Persatuan Taman Siswa,1962, hal.166
3 sayid sabiq,Islamuna(Beirut:Darul Kitab)hal.237
4 Ahmad Syabili, Sejarah dan Kebudayaan Islam jilid I, Al-Husana Zikra:Jakarta,2000.hal 133
5 Parsudi Suparlan,Menuju masyarakat Indonesia yang mullikultural(makalah)symposium Internasional, Denpasar:Jurnal Antropologi Indonesia,2002,hal.3
6 Ibid

Selasa, 29 Mei 2012

Mengikuti Teladan Rasulullah SAW

Pengemis Buta Dan Rasulullah SAW

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”.
Setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuap kan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafat nya Rasulullah SAW,  tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak
bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya  kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”.
Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”.
“Apakah Itu?”, tanya Abubakar RA.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana “, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada  itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?”.
Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).”
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangi ku”, bantah si pengemis buta itu.
“Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangi ku itu selalu menyuapi ku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina nya, memfitnah nya, ia tidak pernah memarahi ku sedikit pun, ia mendatangi ku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Imam idaman keluarga

Renungan Bagi Suami Bila Istri Cerewet

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab RA. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar RA sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar RA. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar RA diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar RA.
Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab RA yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?
Umar RA berdiam diri karena ingat 5 hal pernanan istrinya :
1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.
Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.
Maka, ketika Umar RA terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liukan yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.
2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.
Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar RA ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.
3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu
4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, “akulah yang membuatnya begitu.” Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar RA paham benar akan hal itu.
5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Umar RA kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.
Umar RA hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.
Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar RA ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

Rabu, 25 April 2012

PROFESIONALITAS GURU (PROBLEMATIKA DAN SOLUSI)


A.     PENDAHULUAN
Sejak disahkankannya Undang-undang No.14 tentang Guru dan Dosen tahun 2005, pamor profesi guru mulai naik. Profesi ini mulai diminati lagi oleh banyak orang. Apalagi dengan adanya sertifikasi guru dalam jabatan di tahun 2007. Telah banyak guru yang mengikuti sertifikasi agar dapat memperoleh sertifikat guru guna dijuluki guru profesional.
Lain dulu lain sekarang. Profesi guru sekarang ini mulai banyak diminati. Pamornya naik bagaikan selebritis yang mulai naik daun. Banyak media membicarakannya dan banyak media memuji perannya. Tetapi juga tidak sedikit media yang mencaci-makinya karena kekurang profesionalan guru itu sendiri dalam melaksanakan pekerjaannya.
Berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan telah banyak dilakukan oleh pemerintah, dengan mengambil sentral pada peningkatan mutu guru dan mutu pendidikan guru. Hal di atas dilakukan mengingat guru adalah sentral perubahan. Di samping itu upaya–upaya lain juga telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak termasuk pemerintah, seperti peningkatan sarana/ prasarana sekolah, perbaikan kurikulum dan lain – lain.
Namun hingga saat ini berbagai upaya tersebut belum menampakkan hasil yang menggembirakan. Sebagai indikator yang sering dijadikan ukuran adalah rendahnya hasil UN di semua jenjang sekolah dan rendahnya SDM bangsa Indonesia dibandingkan dengan SDM negara lain.
Mengingat berbagai keterbatasan yang ada, pada makalah ini difokuskan pada berbagai permasalahan seputar peningkatan profesionalisme guru dan upaya pemecahannya serta tantangan seorang guru di masa sekarang ini.

B.     PEMBAHASAN
1.   Permasalahan Terkait Kondisi Guru Saat Ini
Berdasarkan pengamatan di lapangan, sebagaimana dikatakan Zamroni (2000), sedikitnya terdapat empat permasalahan terkait dengan kondisi guru di Indonesia saat ini. Keempat permasalahan tersebut adalah:
a     Penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh para guru tentang pelaksanaan pembelajaran yang belum merata.
b.      Belum adanya alat ukur yang akurat untuk mengetahui kemampuan guru
c.      Pembinaan yang dilakukan selama ini belum mencerminkan kebutuhan guru
d.      Kesejahteraan guru yang belum memadai
e.      Teknik rekruitmen guru yang masih belum memperhatikan jurusan.

2.      Berbagai Upaya Pemerintah Untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru dan  Dampak serta Permasalahannya
Sebenarnya telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan mengajar dan kesejahteraan bagi guru. Beberapa upaya tersebut antara lain:
a. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengajar, pemerintah telah berupaya melalui:
1) Diadakannya berbagai penataran/ diklat guru,
2)  Dilakukannya kualifikasi guru dari berbagai jenjang ke S1.
b.   Untuk meningkatkan kesejahteraan guru antara lain:
1.      Dengan meningkatkan gaji dan memberikan tunjangan fungsional bahkan beberapa daerah memberikan tunjangan insentif bagi para guru,
2.      Diberlakukannya sistem penilaian angka kredit guru untuk kenaikan pangkat, sehingga para guru selama dua tahun dapat naik pangkat/ golongan,
3.      Diberlakukannya uji kompetensi dan sertifikasi guru,
4.      Dengan memberikan tunjangan profesional guru bagi yang telah lulus sertifikasi, melalui portofolio maupun melalui diklat PLPG bagi yang tidak lulus portofolio,
5.      Ditetapkannya Undang - Undang Guru dan Dosen.
c.   Untuk sekedar menghibur dan meninabobokkan guru, “PARA GURU DIBERI GELAR PAHLAWAN TANDA JASA”
Namun demikian berbagai upaya tersebut belum berdampak siknifikan pada peningkatan mutu pendidikan. Hal itu antara lain dikarenakan:
a. Berbagai upaya di atas tidak/ kurang mendengarkan aspirasi/ suara guru, sehingga seakan melecehkan kepribadian guru, di samping itu juga terdapat berbagai kekurangan dan penyimpangan dalam pelaksanaannya, antara lain dapat disebutkan beberapa contoh sebagai berikut:
1.      Berbagai penataran/ diklat guru selama ini kurang dievaluasi/ dipantau pelaksanaan dan dampaknya sampai ke tingkat bawah, bahkan seakan – akan hanya sebagai lahan proyek dari berbagai pihak dan tingkatan
2.      Kualifikasi guru, kurangnya materi pendalaman kurikulum matpel dan berbagai ilmu keguruan dan penilaian serta penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang praktis dan mutakhir (bahkan kadang materi di bangku kuliah dan di sekolah/ praktek di lapangan tidak sambung, karena tidak pernah dibahas bagaimana keterkaitan materi kuliah dengan materi matpel di sekolah)
3.      Penilaian angka kredit jabatan guru dan Uji sertifikasi guru dalam jabatan, yang hanya  menilai bukti fisik (porto folio) terdapat banyak manipulasi bukti fisik, sehingga bukan rahasia lagi bahwa guru malas/ rajin, mengajar 24 atau 8 jam/ minggu, sama naik pangkat/ lulus sertifikasi juga (kecuali sesudah gol IV/a).
4.      Peningkatan gaji dan tunjangan fungsional, masih belum sebanding dengan tupoksi guru (yang semestinya), apa lagi bila dibanding dengan gaji/ tunjangan guru di negara lain.
5.      Undang - Undang Guru dan Dosen, juga baru ditetapkan sedang realisasinya masih kita tunggu dengan harap – harap cemas.
3.      Problematika guru dan solusinya.
Profesi guru dan problematika yang dihadapinya nampaknya harus saya uraikan dalam tulisan ini. Bukan hendak menjelekkan profesi guru, tapi juga berupaya mengungkapkan problem sekaligus solusi yang dihadapinya karena guru juga manusia yang punya kekurangan dan kelebihan.
Problem pertama guru yang terlihat jelas sekarang ini adalah kurangnya minat guru untuk meneliti. Banyak guru yang malas untuk meneliti di kelasnya sendiri dan terjebak dalam rutinitas kerja sehingga potensi ilmiahnya tak muncul kepermukaan. Banyak guru menganggap kalau meneliti itu sulit. Sehingga karya tulis mereka dalam bidang penelitian tidak terlihat sama sekali. Padahal setiap tahun, depdiknas selalu rutin melaksanakan lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran (LKGDP) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh direktorat Profesi Guru.[1]
Biasanya para guru akan sibuk meneliti bila mereka mau naik pangkat saja. Karenanya guru harus diberikan bekal agar dapat melakukan sendiri Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
Problem kedua guru adalah masalah kesejahteraan. Guru sekarang masih banyak yang belum sejahtera. Terlihat jelas dikotomi antara guru berplat merah (Baca PNS) dan guru berplat hitam (baca Non PNS). Banyak guru yang tak bertambah pengetahuannya karena tak sanggup membeli buku. Boro-boro buat membeli buku, untuk biaya hidupnya saja mereka sudah kembang kempis.[2]
Kenyataan di masyarakat banyak pula guru yang tak sanggup menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi, karena kecilnya penghasilan yang didapatnya setiap bulan. Dengan adanya sertifikasi guru dalam jabatan, semoga kesejahteraan guru ini dapat terwujud.
Biar bagaimanapun juga profesi guru adalah pilar terpenting untuk kemajuan bangsa. Oleh karena itu sudah sepantasnya apabila profesi ini lebih diperhatikan, terlebih kesejahteraannya. Tetapi, jangan karena kesejahteraan kurang kemudian kreativitas guru menjadi mati.
Banyak contoh lain dari kehidupan guru yang meskipun kesejahteraannya kurang, tapi komitmen terhadap pendidikan tetap tinggi. Sebaliknya berapa banyak guru yang gajinya sudah tinggi tapi tetap ogah-ogahan mengajar. Semua ini berpulang kembali pada mentalitas kita.
Problem ketiga dari guru adalah kurang kreatifnya guru dalam membuat alat peraga atau media pembelajaran. Selama ini masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah saja dalam pembelajarannya, tak ada media lain yang digunakan sebagai alat Bantu pembelajaran. Mereka tak pernah berpikir untuk membuat sendiri media pembelajarannya. Kalau saja para guru kreatif, pasti akan banyak ditemukan berbagai alat peraga dan media yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan materi pembelajarannya. Guru yang kreatif tak akan pernah menyerah dengan keadaan. Kondisi minimnya dana justru membuat guru itu kreatif memanfaatkan sumber belajar lainnya yang tidak hanya berada di dalam kelas, seperti : Pasar, Museum, Lapangan olahraga, Sungai, kebun, dan lain sebagainya.
Profesionalitas guru dalam menciptakan proses dan luaran pendidikan persekolahan yang bermutu merupakan prasyarat mutlak demi terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang kompetitif dan mandiri di masa datang. Oleh karena itu diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan kontinyu bagi peningkatan dan pengembangan kemampuan profesional guru.
Untuk mengatasi problematika guru di atas, diperlukan kerjasama dari kita semua untuk dapat saling membantu agar guru mampu meneliti, mendapatkan income tambahan dari keprofesionalannya, dan menyulut guru untuk kreatif dalam mengembangkan sendiri media pembelajarannya. Bila itu semua dapat terwujud, maka kualitas pendidikan kita pun akan meningkat.
4.      Tantangan guru
Di tengah tuntutan, tantangan serta berbagai persoalan kegagagalan dunia pendidikan, sosok guru merupakan pihak yang paling tertuduh. Sosok guru merupakan orang paling dimintai pertanggung jawabannya. Bahkan tidak ada alasan apa pun, yang dapat diberikan oleh seorang guru untuk membela dirinya.
Maka, ketika ujian nasional digulirkan dengan standar kelulusan yang cukup fantastis, sosok guru pulalah, yang mula-mula merasa ketar-ketir. Ia mesti bertanggung jawab atas segala apa yang akan terjadi pada peserta didik: frustasi, stress, depresi dan segala keputusasaan mental generasi bangsa ini.
Maka perbaikan dan evaluasi pada kemampuan seorang guru, seolah menjadi hal yang logis untuk dilakukan pertama kali dalam memecahkan persoalan dunai pendidikan.[3]
Dengan prinsip pembelajaran inovatif, seorang guru akan mampu memfasilitasi siswanya untuk mengembangkan diri dan terjun di tengah masyarakatnya.
Hal ini dapat dipahami dengan memerhatikan beberapa prinsip pembelajaran inovatif, yaitu: (a) pembelajaran, bukan pengajaran; (b) guru sebagai fasilitator, bukan instruktur; (c) siswa sebagai subjek, bukan objek; (d) multimedia, bukan monomedia; (e) sentuhan manusiawi, bukan hewani; (f) pembelajaran induktif, bukan deduktif; (g) materi bermakna bagi siswa, bukan sekadar dihafal; (h) keterlibatan siswa partisipasif, bukan pasif.
Selain memberikan beberapa prinsip dasar, pembelajaran inovatif juga menekankan adanya pola dan strategi pendidikan yang utuh. Pola dan strategi pendidikan yang menitik bertakan pada tercipanya kesadaran peserta didik pada dirinya sendiri dan lingkungannya.
Selanjutnya, ketakutan dan keminderan seorang guru dalam melakukan ekpresi merupakan salah satu tumor pendidikan yang urgen untuk disembuhkan. Seorang guru sudah seyogyanya untuk yakin bahwa setiap guru tanpa terkecuali dapat berinovasi dalam pembelajarannya; seorang guru seyogyanya untuk yakin bahwa perbuatan-perbuatan kecilnya yang teliti, semisal mencatat perubahan tentang cara dan gaya mengajar setiap hari akan melahirkan hasil yang besar; serta seorang guru seyogyanya untuk terbuka menerima saran dan kritik dari guru lain, bila pola pembelajaran yang disampaikannya sama seperti yang kemarin.
Lebih jauh, keberanian seorang guru dalam berinovasi, serta merta akan membentuk karakternya menjadi kreatif. Kekreatifan seorang guru, akan berdampak tidak hanya pada pola komunikasi pembelajaran, tetapi juga akan membentuk suasana serta atmosfir pembelajaran yang menyenangkan (enjoy learning). Pembelajaran yang mampu mentransformasikan ilmu sekaligus mampu membetuk karaketr siswa yang manusiawi.
Di bagian akhir buku, juga diuraikan beberapa metode yang dapat digunakan oleh seorang kreatif dalam membangun suasana kelas yang familiar dan manusiawi. Suasana kelas yang tak lagi hadir sebagai ruang penjara yang dijejali teori, konsep dan tugas dari guru. Tetapi raung kelas yang mampu menggali potensi siswa dan menjernihkan nalar pikir anak didik dalam memahami dan mengaplikasikan kemampuannya untuk dirinya sendiri dan lingkungannya.
Kreatifitas guru tentunya terletak pada kekayaannya memiliki metode dan aneka model pembelajaran, serta kecermatannya untuk memilih dan memilah metode dan aneka pembelajaran yang akan digunakan di setiap waktu yang berbeda.
5.      Pengembangan Aplikatif
Misi dan visi, aksi, dan dedikasi, akan menjamin terlaksananya pelayanan profesi guru secara terarah, konsisten dan tepat waktu sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Sehubungan dengan itu, pemerintah melalui Depdiknas harus berupaya membangun sistem pengembangan profesi guru yang aplikatif, operasional dan berfungsi. Yakni sistem pengembangan profesi yang terintegrasi, menyeluruh, dan mendukung penyelenggaraan pendidikan profesi, penjaminan mutu, manajemen, remunerasi dan berbagai pendukung pengembangan profesi guru.[4]
 Dengan adanya sistem pengembangan profesi guru yang berfungsi efektif dan dilaksanakan secara konsisten diharapkan dapat mendukung terwujudnya guru yang cerdas, berbudaya, bermartabat, sejahtera, canggih, elok, unggul dan professional. Yakni para guru yang mengedepankan nilai-nilai budaya mutu, keterbukaan, demokrasi, dan akuntabilitas publik dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sehari-hari dalam kerangka pencapaian visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional.
Harapan ke depan akan dapat diwujudkan guru yang kompeten, terstandar, profesional, dan sejahtera dalam kerangka penjaminan mutu pendidikan nasional. Profesi guru yang terstandar kualifikasi dan kompetensinya, serta mampu melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional. Program Diklat guru yang terstandar, kredibel dan akuntabel dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya. Ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan, termasuk guru yang kompeten, terstandar, profesional dan sejahtera merupakan harapan semua lapisan masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan.
Untuk memacu para penyelenggara dan satuan pendidikan untuk meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu, pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah No 19 Th 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang memuat kriteria minimal tentang komponen pendidikan. Komponen pendidikan yang harus terstandar, meliputi standar isi, standar proses, kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan.
Dengan menggunakan standar nasional pendidikan sebagai acuan setiap satuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan pendidikannya secara optimal sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya. Sejalan dengan itu pemerintah membentuk Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang bertanggung jawab kepada Mendiknas.
BSNP merupakan lembaga mandiri, profesional, dan independen yang mengemban misi untuk mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi pelaksanaan standar nasional pendidikan, akan dapat diwujudkan pendidikan bermutu dan dilaksanakan oleh tenaga-tenaga yang profesional.

C.      KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari makalah diatas dapat kami simpulkan bahwa problematika yang dihadapi oleh guru pada saat sekarang adalah pertama kurangnya minat seorang guru untuk meneliti, kedua kurangnya kesejahteraan seorang guru, dan yang ketiga adalah kurang kreatifnya seorang guru dalam membuat media ataupun metode dalam pembelajaran.
Dan untuk mengatasi problematika guru di atas, diperlukan kerjasama dari kita semua terutama pemerintah untuk dapat membantu agar guru mampu meneliti, dan mendapatkan income tambahan dari keprofesionalannya, sehingga akan menyulut guru untuk kreatif dalam mengembangkan sendiri media pembelajarannya. Bila itu semua dapat terwujud, maka kualitas pendidikan kita pun akan meningkat.

D.     DAFTAR PUSTAKA
1.      Purwanto. 2009. Profesi Guru dan problematika yang dihadapinya. http://purwanto.web.id
2.      Saleh, Kemas Muhammad. 2007. Tantangan Guru Profesional,
3.      Wahedi, Salamet. 2009. Menjawab Tantangan Guru. http://resensibuku.com
4.      Zamroni.2000. Problmatika Pendidikan di Indonesia. Jakarta:


[1] Purwanto, Profesi Guru dan problematika yang dihadapinya, http://purwanto.web.id
[2] Ibid

[3] Salamet Wahedi , Menjawab Tantangan Guru, http://resensibuku.com
[4] Kemas Muhammad Saleh, Tantangan Guru Profesional, http://gurukemas.wordpress.com

Sabtu, 17 Maret 2012

Ujian Curang........!!!!


UJIAN CURANG NGGAK JAMAN LA YEE!!!!
Pernah gak sich muncul pertanyaan dalam benak kita...kenapa pada waktu Hijrah Rasulullah Alaihissholatu Wassalam tidak memakai Buraq padahal lebih cepat, praktis dan aman dari gangguan para kafir Quraisy yang hendak membunuhnya, seperti yang beliau lakukan pada hari Isra' dan Mi'raj, kan mudah saja bagi Allah untuk mengirimkan Buraq kepadanya karena beliau adalah seorang Nabi dan Rasul ??!!! hehehe pengen tahu jawabannya ya.....!! yups begini jawabannya : kita lihat kedudukan Nabi ketika dia hidup, kedudukan beliau adalah sebagai sumber Syariat islam atau lebih tepatnya penyalur Syariat Allah di muka bumi ini, yang menjadi suri tauladan yang mulia bagi seluruh Ummat Islam di Dunia dengan begitu, semua yang bersumber dari beliau baik itu perbuatan, perkataan, dan diamnya beliau terhadap sebuah permasalahan akan menjadi Syariat Islam karena itu dimakan dengan Sunnah beliau.maka oleh sebab itulah beliau tidak memakai Buraq dan lebih memilih berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sangat jauh itu (Makkah-Madinah) agar umatnya bisa meniru apa yang beliau lakukan dan bukan hanya sebatas dikejadian ini saia tapi disemua kegiatan beliau. andai saja beliau memakai mukjizat disetiap kegiatan beliau maka mungkin para sahabat pada waktu itu serta kita juga pada masa sekarang akan beralasan jika ditanya mengapa kamu tidak melakukan sunnah Nabi? " loh beliau kan Nabi punya Mukjizat cukup Angkat Tangan dan memohon sekali saja langsung dikabulkan sedangkan kita hanya manusia biasa tidak bisa melakukan hal itu semua.......!!!"
Namun yang perlu kita garis bawahi dalam kisah Hijrah ini sebenarnya adalah usaha beliau untuk Hijrah itu sendiri.tidak kah kalian tahu kalau Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam telah merancang sebuah rencana yang begitu sempurna untuk Hijrah agar para Musyrikin Quraisy tidak menemukan beliau ? Inilah rencana dan usaha beliau untuk Hijrah : Beliau pergi ke rumah Abu Bakar di siang bolong ketika orang-orang sedang istirahat dengan keadaan kepala dan wajah tertutup kain. beliau masuk lewat pintu belakang rumah Abu Bakar dengan mengendap-endap serta bertanya kepada Abu Bakar apakah ada orang di rumah selain dia. memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur ditempat tidurnya, agar para Musyrikin menyangka kalau beliau ada dirumah dan sedang tidur. beliau menyewa seorang Guide untuk menunjuki jalan mereka (Nabi dan Abu Bakar) menuju Madinah karena mereka akan melalui jalan lain yang belum pernah dilewati orang (bukan jalan yang biasanya). Mereka bersembunyi tiga hari di dalam gua Hira. kenapa tiga hari ? karena beliau tahu dihari pertama para musyrikin baru menyadari kalau beliau telah pergi hijrah dan mulai mencari, sedangkan dihari ke dua semangat mereka sedang tinggi-tinginya untuk menemukan beliau sehingga dimanapun mereka akan periksa untuk menemukannya sehingga akan sangat bahaya jika masih berkeliaran pada hari itu, adapun hari ketiga mereka sudah mulai putus asa karena belum juga mendapati beliau dan akhirnya di hari ke empat mereka menghentikan pencarian dan hari inilah saat yang tepat untuk melanjutkan perjalanan Subhanallah.....!!! benar-benar rencana yang sungguh luar biasa bukan....?! inilah contoh dari Nabi agar kita selalu berusha untuk mendapatkan apapun yang kita mau. tapi apakah usaha saja cukup ???! mari kita simak kelanjutan dari kisah Hijrah beliau! walaupun rencana begitu sempurna namun masih ada saja halangan dan cobaan, tahukah kalian kalau orang-orang musyrikin sudah benar-benar berada di depan mulut gua Hira itu sampai-sampai dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Bakar berkata pada Nabi kalau dia telah melihat kepala salah satu dari mereka yang sedang melihat ke arah mereka berdua, coba kalian bayangkan perasaan kalian jika kalian yang berada di dalam gua itu..resah, takut, gelisah, deg-degan, semua bercampur jadi satu seperti itulah yang dirasakan oleh Abu Bakar sehingga dia sering mengeluh kepada Nabi " ya Rasulullah mereka telah melihat kita..!!!" namun apa kata beliau " waha Abu Bakar tenanglah sesungguhnya Allah bersama kita..!!" ya..beliau menyerahkan segala urusannya kepada Allah karena Allah lah yang maha berkehendak. mengapa demikian...??? padahal mudah saja bagi beliau untuk mengusir para Musyrikin dari depan gua itu yaitu dengan memohon pada Allah niscaya Allah akan mengirim malaikatnya untuk menhabisi mereka semua atau dengan cara yang lain agar mereka pergi dari situ mengapa ...?? jawabannya karena beliau ingin memberi contoh kepada umatnya agar selalu bertawakkal setelah usaha, dan berusaha dulu sebelum tawakkal.
Demikianlah cerita singkat Hijrah beliau yang memiliki makna yang sangat penting bagi kaum muslimin semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari kisah beliau ini. Tulisan singkat ini saya tujukan kepada teman-teman yang sebentar lagi akan menghadapi ujian agar berusaha terlebih dahulu dengan belajar yang giat baru menyerahkan segala urusan kepada Allah dan berdoa kepadaNya yang maha berkehendak karena Allah lah yang akan memberikan keputusan itulah yang dinamakan TAWAKKAL. ingat !!! Usaha menyerahkan Urusan selanjutnya kepada Allah = Tawakkal kenapa tidak......wong Burung saja menggabungkan antara keduanya sehingga dia mendapatkan makanan untuknya dan anak-anaknya, coba kalian lihat burung-burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar kemudian pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang apakah sebelum pergi mereka yakin akan mendapatkan makanan tapi mereka tetap berusaha dengan terbang mencari makan tidak hanya berdiam diri serta menyerahkan urusannya kepada Allah sehingga mereka menjadi yakin kalau mereka PASTI BISA.....!!!. semoga semua urusan kita dipermudah oleh Allah sehingga kita semua bisa lulus dengan nilai yang memuaskan......Amien Ya Rabb..............!!!

Dakwah dan Problematika


PROBLEMATIKA DAKWAH
Pengertian Dakwah
Secara bahasa kata dakwah berasal dari bahasa arab da’a, yad’u, da’watan, yang berarti ajakan, seruan,panggilan atau undangan. Secara istilah dakwah berarti mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akherat. Orang yang berdakwah disebut dai, sedang orang yang menjadi sasaran dakwah disebut mad’u.
Selain kata dakwah, kita juga mengenal kata tabligh. Secara bahasa tabligh berarti penyampaian. Secara istilah berarti menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia untuk dijadikan pedoman hidup dan dilaksanakan agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akherat. Orang yang bertabligh disebut mubaligh. Dalam masyarakat keduanya dianggap sama, karena keduanya mempunyai tujuan sama yaitu menyeru manusia agar mengamalkan ajaran Islam. Allah SWT. memerintahkan kita untuk selalu berdakwah sebagaimana firman Allah SWT.:
125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Metode Dakwah
Metode bil hikmah
Metode bil hikmah adalah dakwah dengna cara berdialog dengan kata-kata yang bijak.Dakwah disampaikan dengan keterangan yang tegas dan jelas, tidak ragu dan bimbang. Sasaran dakwahnya adalah cendekiawan yang memilki pengetahuan tinggi.
Metode bil mauidzah hasanah
Metode bil mauidzatil hasanah adalah  dakwah dengan member nasehat dan prumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan yang sederhana. Metode ini tepat jika sasaran dakwahnya adalah kaum awm.
Metode bil jidal
Metode bil jidal adalah dakwah dengan perdebatan, dengan cara yang baik yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan. Sasaran dakwahnya ahli kitab dan pemeluk agama lainnya atau kaum terpelajar.

Problematika Dakwah
Permasalahan dakwah yang muncul dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu factor intern dan ekstern.
Faktor intern : pribadi seorang dai. tidak menguasai materi dakwah, tidak mampu berkomonikasi dengan sasaran dakwah sering menjadikan dakwah tidak diterima dengan baik oleh sasaran dakwah. tidak mampu melaksanakan syariat Islam dalam kehidupan sehari-harinya, hanya akanmenjadi bahan cemoohan.
Faktor ekstern : kondisi di luar pribadi seorang dai, kondisi lingkungan yang kurang mendukung. tayangan di mas media cetak maupun elektronik yang kurang mendidik, seperti pola hidup yang konsumtif, mode pakaian yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, gaya pergaulan bebas. kebijakan pemerintah yang kurang mendukung dakwah. kegiatan dakwah orang-orang non muslim, seperti misioneris dan zending. Semua itu harus disikapi dengan optimis dan semangat juang yang tinggi, agar dakwah islamiyah terus berjalan sampai akhir jaman.

SURAT AL-LAHAB
Pejelasan Q.S. al-Lahab
Nama surah
Surah ini terkenal dengan nama al-Lahab diambil dari ayat pertama. Nama lain al Masad (sabut penjerat), Tabbat (binasalah). Termasuk jenis surah Makiyah, surat ke-6 dari segi tertib turunnya dan ke-111 dari segi tertib penulisannya.
Tema Utama
Membicarakan tentang kebinasaan yang akan dialami oleh salah seorang tokoh utama kaum musyrikin yaitu Abu Lahab. Uraian menyangkut kebinasaan istrinya adalah bagian dari siksa yang akan dialami oleh Abu lahab itu.

Asbabul Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa suatu ketika Rasulallah SAW.. naik ke bukit Shafa ambil berseru: “Mari kumpul pada pagi hari ini!” Maka berkumpulah kaum Quraisy. Rasulullah SAW..bersabda:  “Bagaimana pendapat kalian, seandainya aku beri tahu bahwa musuh akan datang besok pagi atau petang, apakah kalian percaya kepadaku?” Kaum Quraisy menjawab: “pasti kami percaya”. Rasulallah SAW. bersabda: “Aku peringatkan bahwa siksaan Allah yang dahsyat akan datang”. Berkata Abu Lahab: “Celaka engkau! Apakah hanya untuk ini, engkau kumpulkan kami?” Maka turunlah ayat ini (S. 1 s/d 5) berkenaan dengan peristiwa itu yang melukiskan bahwa kecelakaan itu akan terkena kepada orang yang memfitnah dan menghalang-halangi agama Allah.

Kandungan Isi
Ayat 1 dan 2 , ayat pertama merupakan do’a untuk Abu Lahab agar merugi dan celaka. Kebinasaan bukan hanya pada kedua belah tangannya, bahkan dirinya sendiri, rohani dan jasmaninya pun akan binasa. Apa yang direncanakannya dalam menghalangi dakwah Nabi SAW. tidaklah akan ada yang berhasil.   Abu Lahab adalah gelar Abdul Uzza ibn Abul Muttalib. Ia adalah paman Nabi Muhammad SAW. Dia dijuluki Abu Lahab (bapaknya jilatan api) karena pipinya kemerah-merahan, atau sebagai isyarat bahwa kelak dia akan masuk neraka.
Ayat kedua menginformasikan Abu Lahab tidak ada peluang untuk selamat. Sungguh binasa kedua tangannya, harta benda dan segala usahanya tidak dapat menyelamatkan dari kebinasaan.
Ayat 3, 4 dan 5, Kelak Abu Lahab pasti binasa disiksa di api neraka yang apinya berkobar-kobar dengan ganasnya. Neraka tersebut tidak hanya disediakan untuk Abu lahab, tetapi juga untuk kaum kafir yang menentang Nabi SAW. Kebinasaan juga menimpa istri Abu Lahab, yaitu Urwah binti Harb, saudara perempuan Abu Safyan bin Harb.  Dia digelari Ummu Jamil.
Kalimat Al-hathob (حمالة الحطب) dipahami dalam arti pembawa isu dan fitnah, yang bertujuan melecehkan Nabi SAW.. dan memecah belah kaum muslimin. Atau sebagai ungkapan penghinaan kepadanya yang kaya raya.
Surah Al Lahab ditutup dengan pernyataan, betapa hina Abu Lahab. Kelak dia di neraka jahannam. Istri Abu Lahab wafat dalam kemusyrikan sehingga ayat di atas dapat dinilai sebagai salah satu ayat yang berbicara tentang gaib yang telah terbukti.
Problematika dakwah dalam Q.S. al-Lahab

Q.S. al-Lahab menggabarkan kebencian kaum kafir quraisy terhadap dakwah Nabi amuhammad SAW. Problematika dakwah yang tersirat dalam Q.s. al-Lahab adalah:
         Sikap penolakan masyarakat Quraisy terhadap agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
         Penolakan dilakukan oleh kerabat Nabi sendiri yaitu Abu Lahab.
         Berbagai cemoohan yang dilontarkan kepada Nabi SAW. dan kaum muslimin.
         Rintangan dakwah juga dilakukan kaum wanita yaitu istri Abu Lahab.
         Tekanan fisik maupun mental terhadap beliau dan pengikutnya.
         Upaya Abu Lahab mengerahkan segala cara baik dengan perbutan atau hartanya untuk membendung dakwahRasulallah SAW.

Q.S. an-Nashr
Penjelasan Q.S. an-Nashr
Nama surah
Surat ini terkenal dengan nama an-Nashr. Pada masa lampau terkenal idza jaa nashrullahi wal fath sesuai bunyi ayat pertama. Ada pula yang memahami at-Taudi (perpisahan). Termasuk jenis surah madaniyah, surah ke 103 dari segi tertib turunnya, dan surah ke 110 dari segi tertib penulisannya.
Tema utama
Tema utamanya adalah berita gembira tentang kemenangan yang akan diraih oleh Rasul SAW. dan berbondong-bondongnya masyarakat memeluk agama Islam. Disisi lain mengisyaratkan selesainya tugas Rasul SAW. Dengan demikian surah ini menginformasikan dekatnya ajal Rasul SAW.

Asbabun nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Rasulallah SAW. masuk kota Makah pada waktu fathu makah, Khalid bin Walid diperintahkan memasuki kota Makah dari jurusan dataran rendah untuk menggempur pasukan quraisy (yang menyerangnya) serta merampas senjatanya. Setelah memperoleh kemenangan. Maka berbondong-bondonglah kaum quraisy masuk Islam. Ayat ini (Q.S. an-Nashr 1-3) turun berkenaan dengan peristiwa itu. Sebagai perintah untuk memui syukur dengan me-Mahasucikan Allah atas kemenangannya dan meminta ampun atas segala kesalahan.

Kandungan isi
Ayat 1 merupakan informasi datangnya kemenangan yang akan diraih oleh kaum muslimin. Kemenangan yang di maksud adalah ditaklukkannya kota makah (fathu makah). Kemenangan Rasul SAW. dan kaum muslimin diawali dengan ditaklukkannya kota Makah, pada bulan Ramadhan tahun ke-8 hijriyah (Desember 630 M). Rasulallah SAW. berhasil memasuki kota Makah tanpa pertumpahan darah.
Ayat 2 menjelaskan tentang dampak ditaklukkannya kota Makah. Pembebasan kota Makah memberi pengaruh yang besar dalam kehidupan agama dan politik. Pengaruh tersebut antara lain banyaknya manusia masuk Islam dan bernaung di bawah panji Nabi SAW. secara berbondog-bondong.
Hal itu terbukti banyaknya utusan-utusan yang datang ke Madinah pada tahun ke-9 Hijriyah, untuk mewakili golongannya menyatakan keislamannya.
Para ahli sejarah menguraikan, “Rasulullah SAW. tidak akan meniggalkan dunia fana ini, kecuali seluruh orang arab di jazirah Arabia dan Yaman telah masuk Islam.
Ayat ke-3 menjelaskan, jika kemenangan sudah nyata, Mahasucikanlah dan agungkanlah Tuhanmu. Sebab Tuhan tidak akan sekali-kali melalaikan kebenaran dan memenangkan kebatilan.   Ayat ke-3 ditutup dengan perintah memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT. Karena sebelum kemenangan itu diraih sempat terjadi goncangan-goncangan hati, karena terlambatnya realisasi janji pertolongan Allah SWT. Karena itu patutlah dilakukan istighfar dari kekurangan di dalam memuji Allah dan mensyukurinya.

Problematika Dakwah yang Muncul
Problematika yang muncul saat ditaklukannya kota Makah adalah:
         Kecemasan yang menimpa kaum muslimin karena kemenangan yang tidak kunjung tiba.
         Sikap permusuhan kaum ahli kitab khususnya kaum yahudi    madinah
         Sikap permusuhan kaum kafir quraisy sejak awal dakwah Islam.
         Dirusaknya perjanjian hudaibiyah oleh orang-orang quraisy.
         Perlawanan pasukan kafir yang dipimpin oleh Suhail bin Amr, Safyan  bin Umayyah dan Ikrimah bin Abu Jahal terhadap pasukan Khalid bin Walid.

Menerapkan Kandungan Surah al-Lahab dan an-Nashr Dalam Kehidupan Sehari-hari
Sebagai seorang muslim, setelah memahami surah al-Lahab dan an-Nashr, hendaklah kalian mampu menerapkan kandugan kedua surat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelumnya alangkah baiknya kalian ketahui problematika dakwah di jaman sekarang. Problematika yang di maksud :
Upaya musuh-musuh Islam yang menggunakan berbagai cara untuk menghentikan dakwah Islam.
         Tayangan diberbagai media yang tidak mendidik.
         Kemiskinan dan kebodohan umat Islam.
         Banyaknya umat Islam yang masa bodoh dengan tugas dakwahnya.
         Keragu-raguan sebagian umat Islam akan pertolongan Allah.

Diantara penerapan kandungan kedua surah tersebut dalam kehidupan sehari-hari ialah:
         Senantiasa berdakwah meskipun menghadapi rintangan sebagaimana yang dihadapi Rasulallah SAW.
         Melakukan hijrah apabila masyarakat yang menjadi sasaran dakwah sudah tidak bias lagi diharapkan.
         Bersabar dalam menghadapi sikap tidak bersahabat dari sasaran dakwah sebagaimana Rasulullah menghadapi kaum kafir quraisy.
         Mampu menjaga diri agar tidak menimbulkan kekacauan dan keresahan dalam masyarakat.
         Siap berkorban membela dan menjaga kewibawaan kaum muslimin.
         Senantiasa yakin dengan datangnya pertolongan Allah.
         Tidak merasa sombong jika seruan dakwah diterima oleh sasaran dakwah.
         Banyak mensucikan dan memuji keagungan Allah dan mohon ampunan.

Uji Kompetensi 3
  1. Jelaskan pengertian dakwah menurut bahasa dan istilah!
  2. Jelaskan metode dakwah menurut QS. An Nahl:125!
  3. Jelaskan asbabun nuzul Qs. Al- Lahab!
  4. Bagaimana penerapan QS. Al- Lahab dan An- Nashr dalam kehidupan sehari-hari? Jelaskan !
  5. Tulislah QS. A- Nashr lengkap dengan terjemahannya!